Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Beberapa mungkin sudah mengetahui bahwa anak ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) mengalami kesulitan untuk tenang, konsentrasi dan memperhatikan apapun yang ada di sekitarnya seperti pelajaran di sekolah atau di rumah. Anak ADHD biasanya mudah sekali terganggu dengan suara, gerakan atau hal lain sehingga untuk bisa fokus adalah tantangan sendiri bagi dirinya, orangtua/guru.

Stanley I. Greenspan, M. D, seorang dokter anak sekaligus profesor psikiatri anak di fakultas kedokteran Universitas Washington mengatakan bahwa pemberian obat-obatan memang membantu agar anak ADHD lebih tenang dan fokus terhadap apa yang ada dihadapannya. Namun selain adanya efek samping dari obat-obatan seperti masalah tidur dan kenaikan berat badan, emosi dan kreativitas anak juga tidak terlalu meningkat baik. Maka dari itu, Stanley merekomendasikan orangtua dan guru untuk memberikan kesempatan pada anak untuk menjalani aktivitas secara aktif yang dapat membantu tumbuh kembangnya mencapai hasil yang lebih maksimal, dibandingkan dengan hanya memberikan obat-obatan. Paling tidak, aktivitas yang dilatih dan dilakukan secara aktif dapat memperkuat masalah yang ada dalam diri anak.

  1. Melatih kemampuan motoriknya

Anak ADHD perlu untuk belajar keseimbangan tubuh, koordinasi, pergerakan, mengintegrasikan bagian tubuh kiri dan kanan, koordinasi tangan dan mata, meningkatkan kemampuan motorik halus dan kasar agar meningkatkan kemampuannya untuk fokus dalam belajar. Selain aktivitas olahraga seperti outbond, hiking atau bermain sepeda dengan arah yang sudah ditentukan, orangtua dapat mengemasnya dalam bentuk permainan. Diantaranya, ajak anak untuk bermain lempar tangkap dengan menggunakan bola. Sambil menangkap dan melempar bola, berikan anak suatu arahan singkat dan minta anak untuk mengulanginya. Lakukan berulang kali. Selanjutnya adalah bermain “Freeze”, “Play!”. Disini anak diminta untuk fokus, konsentrasi dan diam di tempat (freeze/kaku) selama 10 detik dan menyebutkan 3 benda yang ia lihat selama 10 detik kebelakang. Orangtua/guru dapat memodifikasi permainan ini sesuai dengan kondisi anak.

  1. Bantu anak untuk membuat perencanaan atau urutan kegiatan

Hampir semua anak ADHD sulit untuk mengikuti arahan yang rumit atau tertulis dengan esai. Contohlah permainan berburu harta karun yang diiringi oleh berbagai petunjuk. Permainan tersebut akan menjadi sulit jika anak tidak dilatih dengan permainan serupa. Anak tidak akan bisa memahami serangkaian petunjuk dan melewati rintangan permainan yang banyak memerlukan kekuatan motorik dengan baik.

Untuk melatih kemampuan memahami urutan, orangtua/guru dapat mendampingi anak untuk membuat daftar pekerjaan rumah yang harus dilakukan olehnya setiap hari, latihan menulis cerita, mengurutkan gambar/cerita atau bermain puzzle.

  1. Memodulasi respon anak terhadap sensasi

Anak ADHD memiliki tantangan yang berbeda-beda dalam merespon stimulus dan memproses sensasi. Ada yang terlalu reaktif dengan sesuatu yang berbau visual, pendengaran, sentuhan bahkan ada yang terlalu reaktif pada gerakan tubuh mereka sendiri dan sebagainya. Mengetahui tipe yang sesuai dengan anak dapat membantu orangtua/guru untuk menentukan cara yang tepat untuk meningkatkan fokus mereka. Misalnya saat anak ADHD selalu melihat keluar jendela kelas, ada baiknya jika anak duduk di depan dan di posisi tengah agar guru dapat lebih mengontrol dan anak dapat lebih fokus belajar.

  1. Dampingi anak untuk berpikir reflektif

Yang keempat adalah membantu anak ADHD untuk dapat berpikir reflektif. Berpikir secara reflektif artinya mampu mengevaluasi diri dan mengetahui kelebihan serta kekurangan yang ada. Dari hasil evaluasi itu anak akan belajar untuk menentukan perencanaan atau strategi ke depan. Misalnya, jika anak belum mendapatkan hasil yang maksimal dalam mata pelajaran atau aktivitas tertentu, orangtua/guru dapat mengajak anak untuk menguraikan penyebab dari hasil tersebut. Latihan seperti ini membutuhkan waktu dan konsistensi agar daya fokus, konsentrasi dan perhatian baik dalam tugas sekolah maupun rumah dapat terus meningkat.

  1. Dinamika keluarga

Orangtua/keluarga tetaplah menjadi komponen nomor satu yang harus selalu terlibat aktif pada pengasuhan anak, terlebih  ADHD. Biasanya, ketika anak meminta sesuatu, orangtua cenderung untuk langsung manjawab “Iya”, “Tidak”, “Boleh” dan sebagainya tanpa meminta anak untuk menguraikan alasannya. Ini sangat berhubungan dengan kemampuan berpikir reflektif.  Menerapkan berpikir reflektif dalam percakapan sehari-hari akan membiasakan anak untuk berpikir runut dan fokus untuk jangka waktu yang panjang. Misalnya, anak meminta untuk bermain di taman, orangtua dapat bertanya “Mengapa ingin bermain di taman?” lalu anak menjawab “Karena aku ingin main”, orangtua dapat bertanya lagi, “Mengapa ingin bermain di taman daripada di dalam rumah?” kemudian anak menjawab, “Karena ada ayunan”.

Bagaimana orangtua secara kompak dapat melakukan hal seperti itu dalam kehidupan sehari-hari sangat menentukan dinamika keluarga. Dinamika keluarga pola asuh, gaya komunikasi dan kesabaran orangtua memainkan peran penting dalam mengajarkan anak dengan ADHD untuk belajar fokus.

  1. Bangun kepercayaan dirinya

Wajar jika anak ADHD merasa sulit untuk berlatih fokus di awal. Hal terpenting yang harus dilakukan orangtua agar anak dapat melewati proses pembelajaran dengan baik adalah dengan bersikap sabar dan yakin akan kemampuannya agar anak bisa lebih percaya diri. Hargai sekecil apapun peningkatan yang ada pada diri anak. Latihan yang konsisten serta kerjasama antar kedua orangtua (ibu dan ayah) dalam mendidik juga menjadi faktor penentu keberhasilan anak untuk bisa terus fokus dalam menyerap informasi yang ada saat ini dan di masa depan.

Selamat mencoba. Happy parenting!

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail