Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Siang itu, Lala tidak diperbolehkan orangtuanya untuk mengolesi roti dengan selai karena takut pakaian Lala akan menjadi kotor. Akibatnya, Lala menangis dan orangtuanya menjadi kesal. Karena kesal, orangtuanya memarahi dan menyuruh Lala untuk berhenti menangis. Akhirnya situasi rumah menjadi tidak kondusif.

Pernah mengalami kejadian serupa dengan cerita diatas?

Ya, anak adalah makhluk yang sensitif. Ketika orangtua merasa cemas dan mengeluarkan emosi negatif, secara tidak langsung anak akan ikut bereaksi negatif.

Menurut Maria Montessori, usia 0-7 tahun adalah periode sensitif dimana anak mudah menyerap apapun yang ada di lingkungannya, termasuk bagaimana perilaku orangtua terhadap dirinya. Hal ini kemungkinan yang akan membentuk perilaku anak di kemudian hari. Menjadi anak yang mandiri, manja atau penakutkah anak kita?

Pola asuh positif (positive parenting) tampaknya menjadi cara yang harus diterapkan oleh orangtua masa kini dalam membesarkan anak karena dalam pola asuh positif ini, orangtua dapat secara aktif dan kreatif memodelkan anak-anaknya tentang cara beperilaku yang sebagaimana mestinya. Dalam pola asuh ini orangtua akan mendekatkan diri dengan anak melalui cinta, empati dan kebaikan daripada hanya menuntut dan memberikannya seperangkat aturan yang belum tentu akan dijalaninya. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua untuk menerapkan pola asuh positif (positive parenting)

1.Memahami alasan dibalik perilaku anak

Menghadapi anak yang tiba-tiba ngambek memang menjengkelkan. Namun pahamilah bahwa selalu ada alasan dibalik setiap perilaku anak. Jika orangtua dapat mengakui, mengungkapkan apa yang dirasakan oleh anak, sekalipun orangtua tidak dapat menuruti kemauannya, anak akan merasa dimengerti.

Memahami alasan atas perilaku anak juga menghindari orangtua dari kesalahpahaman. Misalnya, Beni memukul kakaknya dan tidak lama kemudian mereka bertengkar. Reaksi pertama orang mungkin adalah marah dan berpikir bahwa Beni sudah berbuat yang tidak baik pada kakaknya. Tetapi jika ditelusuri lagi, kakaknya lah yang pertama kali merebut mainan Beni sehingga menyebabkan Beni melakukan hal demikian. Dengan komunikasi yang baik sebelum memarahi Beni, orangtua dapat memberikan ajaran kepada kakaknya untuk meminta izin terlebih dahulu jika ingin meminjam sesuatu. Dari kasus ini, dapat disimpulkan bahwa apa yang dilihat belum tentu sama dengan apa yang dipikirkan. Selalu menyediakan waktu untuk anak dan membangun komunikasi yang baik akan membantu orangtua untuk mengenal anak lebih dalam lagi.

2. Menjadi contoh yang baik

Saat bermain cilukba dengan anak, tak disangka ia bisa melakukannya kembali sendiri. Artinya, anak belajar apapun dari orangtua. Orangtua adalah role model pertama anak. Perkataan dan perilaku yang ditampilkan orangtua sehari-hari akan mempengaruhi anak dalam berperilaku. Jadi jika ingin anak tumbuh menjadi anak yang sopan, pandai bergaul dan mandiri, orangtua harus menanamkan nilai-nilai tersebut pada dirinya sendiri terlebih dulu agar anak dapat melihat contoh nyata yang ada di dekatnya. Jika orangtua hanya menuntut anak tapi perilakunya sendiri tidak mencerminkan hal-hal yang harus dilakukan anak, untuk apa?

3. Hindari melabel anak

Adik harus berani ya saat maju di depan kelas, jangan seperti kakak si penakut”

Kina anaknya pemalu ya, dia tidak menyapa om dan tante saat bertemu di rumah nenek”

Menyebut anak dengan sifat-sifat negatif tertentu tidak akan membuat anak merubah perilakunya ke arah yang lebih baik. Anak cenderung merasa rendah diri dan labeling tersebut akan membuat anak berperilaku sesuai dengan julukan yang diterimanya.

Jika anak menunjukkan rasa malu atau takut bantu anak untuk mengatasinya dengan memberikan penguatan positif dan kepercayaan yang penuh. Fokus pada kelebihan anak serta berikan waktu padanya untuk berproses. Tentu, memberikan label atau julukan pada anak bukanlah solusi.

4. Memberikan kesempatan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial

Memberikan gadget untuk anak dapat membuatnya senang tapi belum tentu ia akan belajar banyak mengenai apa yang ada di sekitarnya. Lain halnya jika anak diberikan kesempatan luas untuk berinteraksi dengan dunia dan kehidupannya sendiri. Interaksi sosial memberikan kesempatan pada anak untuk meningkatkan keterampilan sosial, kecerdasan emosi, dan perkembangan kognitif, baik hanya beberapa jam di taman atau bermain di rumah bersama teman. Itu juga bisa digunakan sebagai sarana belajar. Mereka akan belajar untuk berbagi, kapan menggunakan perilaku yang tepat dan menghindari penggunaan perilaku yang kurang tepat.

5. Membangun hubungan yang baik dengan pasangan

Orangtua tidak hanya mengajarkan anak tentang bagaimana berperilaku baik tapi juga mengajarkan untuk membangun hubungan yang baik dengan pasangan karena anak selalu memperhatikan bagaimana kedua orangtuanya memperlakukan satu sama lain. Dan ini dapat berdampak positf atau negatif pada perkembangan anak.

Orangtua yang memiliki hubungan harmonis dan selalu terlibat dalam pengasuhan akan membuat anak merasa aman (secure) baik secara psikis maupun fisik. Kedua hal itu yang akan mempengaruhi bagaimana anak berpikir dan berperilaku.

Semoga bermanfaat. Happy parenting 🙂

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

Picture: <a href=”https://www.freepik.com/free-photo/parents-cuddling-with-daughter-on-sofa_2221676.htm”>Designed by Freepik</a>

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail