Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Melihat perkembangan perilaku anak saat ini atau biasa disebut dengan generasi milenial, terkadang membuat saya geleng kepala namun ada juga yang membuat saya salut berdecak kagum. Tumbuh dan berkembang di zaman yang penuh dengan perkembangan pesat teknologi membuat apa yang kita butuhkan menjadi serba ada, serba mudah dan serba cepat.  Tidak jarang apa yang tidak kita minta dan diduga sulit untuk didapat, ternyata mudah didapatkan.

Namun apakah sebenarnya keadaan ini baik untuk perkembangan diri anak kita?

Membandingkan dengan keadaan zaman dulu ketika kita tumbuh dan berkembang di zaman yang masih terbatas aksesnya, terbatas untuk bersentuhan dan mendapatkan kebutuhan, kita diharuskan untuk bersabar untuk mendapatkannya dan berusaha keras mendapatkan apa yang diinginkan. Berbagai macam usaha kita lakukan untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan kita. Mulai dari mendapatkan uang dengan berbagai usaha, seperti berjualan jajanan atau mainan ke teman-teman, membantu tetangga bersih-bersih atau menyimpan uang jajan hingga nominal tertentu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Bukan berarti saat itu orangtua kita tidak peduli dengan keinginan kita, bukan karena mereka sayang dengan uang yang mereka miliki sehingga mereka tidak mau membelikan apa yang kita  nginkan. Tapi buat mereka itu bukan prioritas. Maka dengan pemikiran orangtua kita saat itu, akhirnya memaksa kita untuk berfikir apa yang harus dilakukan untuk memperoleh keinginan kita.

Secara tidak sadar, diri kita akhirnya mulai berfikir kreatif bagaimana caranya mendapatkan apa yang kita inginkan.  Lalu timbulah dorongan untuk mengupayakan berbagai cara agar apa yang dinginkan segera tercapai.  Sedikti demi sedikit apa yang telah diusahakan menampakkan hasil. Berbagai halangan dan rintangan dilalui, berusaha mencari jalan keluar, dan mencari kembali jalan lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Hal ini akhirnya membuat diri kita terlatih untuk selalu berfikir dan berfikir apa selanjutnya yang perlu dilakukan, bagaimana selanjutnya untuk mengupayakan agar keinginan dan cita-cita tercapai.

Apa yang diinginkan perlahan tapi pasti akan tercapai. Ketika tiba saatnya apa yang diusahakan sudah tercapai, apa yang diinginkan terwujud disitulah kepuasan terasa. ‘Akhirnya aku memilikinya’. Merasakan nikmatnya perjuangan yang terwujud dalam keberhasilan, namun bisa juga merasakan sedihnya akibat kegagalan. Terpintas dalam pikiran, ‘apa lagi ya?’ ‘gimana biar saya tidak gagal lagi ?’. Pertanda masih semangat untuk berusaha mencoba kembali meraih keinginan-keinginan lain yang belum tercapai

Ternyata banyak proses yang kita lalui dalam mendapatkan apa yang kita usahakan dulu untuk memiliki sebuah benda hingga mewujudkan cita-cita. Namun dibalik itu semua, ternyata tidak hanya hasilnya yang kita peroleh. Tanpa disadari ada banyak hal yang tidak tampak yang akhirnya menjadi modal kita dalam berkehidupan. Berpikir kreatif, mau berusaha, pantang menyerah, bersabar, belajar memperbaiki kesalahan, mandiri dan mau belajar hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak pelajaran yang akhirnya melatih diri kita menjadi lebih tangguh. Belajar untuk memahami, belajar untuk bisa dan belajar untuk menguasai, hal itulah yang menjadi softskill diri kita. Kemampuan yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan dengan agar mampu berdiri di atas kaki sendiri. dari pengalaman kita belajar bahwa kesuksesan dan keberhasilan yang diraih bergantung pada apa yang kita upayakan.

Lalu, bagaimana kita mendidik anak-anak kita yang tumbuh dan berkembang di zaman yang serba canggih, serba ada, serba mudah dan serba praktis saat ini?. Berbagai kemudahan yang dirasakan oleh anak kita saat ini bagaikan dua sisi mata uang. Satu sisi hal ini banyak membantu anak kita dalam menyerap berbagai informasi. Dahulu mungkin sulit apa yang terjadi diluar sana, sulit untuk mengetahui perkembangan dunia sehingga terkadang kita harus berusaha dahulu untuk mendapatkan informasi, seperti menonton tv di balai desa atau membeli surat kabar yang terbilang cukup menguras kantong. Namun saat ini banyaknya akses dan media membuat kita begitu mudah untuk mendapat informasi. Disaat kita kesulitan ketika menjawab sebuah pertanyaan, kita hanya perlu mengetik pertanyaan tersebut di gadget kita dan akan muncul jawaban yang diharapkan. Tidak perlu lagi bersusah payah ke perpustakaan untuk meminjam buku.  Hal ini secara tidak sadar membuat diri kita menjadi pribadi yang serba instan, ingin segala sesuatu serba praktis. Namun dari mana kita bisa belajar caranya berjuang, caranya bersabar, caranya berusaha meraih keinginan kita bila semua hal yang diinginkan tersebut sudah tersedia dan begitu mudah diraih ?

Tidak ada salahnya kita berfikir sejenak untuk mencari cara agar anak-anak kita bisa memperoleh softskill yang kita harapkan, sama hal nya dengan softskill yang akhirnya tertanam di diri kita karena berbagai pengalaman dan proses yang kita lalui sebelumnya. Tujuannya hanya satu, agar anak kita dapat berdiri di atas kaki mereka sendiri dan mampu menjalani kehidupannya dengan mandiri. Belajar dari pengalaman hidup agar dapat menjadi seorang pejuang yang semangat dan gigih meraih apa yang dicita-citakan tanpa pantang menyerah. Belajar bahwa segala sesuatu butuh proses, perjuangan dan kesabaran. Anak kita bukan hanya butuh doa namun mereka juga membutuhkan usaha-usaha yang kita lakukan untuk memberikan mereka kesempatan agar dapat belajar dan memiliki softskill yang kita harapkan.

Penulis: Eni Rosinta, S.Pd.I

Picture : <a href=”https://www.freepik.com/free-photo/smiling-couple-lying-on-the-lawn-with-their-daughter_987033.htm”>Designed by Javi_indy</a>

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail