Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Istilah hiperaktif mungkin tidak asing lagi dikalangan orangtua dan guru. Anak yang tidak bisa diam, sulit berkonsentrasi pada pelajaran, selalu bergerak kesana kemari, berbicara tanpa henti seringkali disebut dengan hiperaktif. Meskipun demikian, terkadang perilaku tersebut masih terjadi dalam waktu tertentu yang wajar. Lalu apa yang membedakan hiperaktif normal dengan suatu gangguan?

Apa itu ADHD ?

ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) adalah gangguan pemusatan perhatian yang umumnya dialami oleh anak. Anak dengan ADHD sulit mengendalikan diri untuk duduk tenang, berhenti bergerak atau berbicara. ADHD dapat diidentifikasi saat usia sekolah ketika anak mulai membuat kericuhan di kelas dan bermasalah dengan tugas sekolahnya. Tetapi beberapa tanda-tanda dapat muncul sebelum usia 7 tahun. Jika dari kecil tidak mendapatkan penanganan yang serius, ADHD dapat terus terjadi hingga dewasa. Menurut APA (American Psychiatric Association), sekitar 8,4% anak dan 2,5% orang dewasa mengalami ADHD.

Tanda-tanda ADHD

Semua anak pernah mengalami sulit berkonsentrasi, tidak mau mendengarkan arahan, tidak bisa diam atau menunggu giliran namun anak dengan ADHD mengalami hal tersebut dalam waktu yang terus menerus, waktu yang berbeda-beda hingga mengganggu aktivitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Karena gejala ADHD beragam, DSM IV TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) mengklasifikasikannya menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Inantentif: Anak memiliki daya konsentrasi yang rendah
  2. Hiperaktif-impulsif: Anak yang hiperaktif mudah bosan dan gelisah. Mereka kesulitan untuk duduk diam, terburu-buru dalam melakukan berbaga hal serta membuat kecerobohan. Mereka memanjat, melompat dan bersikap kasar meskipun mereka tidak bermaksud berbuat demikian.
  3. Tipe kombinasi: Anak yang mengalami kedua rangkaian masalah diatas.

Langkah awal untuk mengetahui apakah anak memiliki gangguan ADHD atau tidak adalah dengan melakukan pemeriksaan ke psikolog anak.

Faktor penyebab ADHD

Hingga saat ini belum ditemukan penyebab ADHD secara spesifik karena heterogenitas anak-anak yang terdiagnosa ADHD. Tetapi faktor biologis memainkan peran yang cukup besar pada ADHD. Berbagai penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ada perbedaan pada fungsi dan struktur otak pada anak dengan ADHD dan tanpa ADHD, yaitu pada bagian lobus frontal yang lebih kecil dari ukuran normal sehingga menyebabkan anak kurang responsif terhadap stimulasi. Adapun faktor lainnya seperti lahirnya anak secara prematur, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol saat hamil serta ibu yang mengalami stress berlebih saat hamil.

Bagaimana cara menangani anak dengan ADHD?

Untuk meminimalisasi perilaku yang ekstrem, anak dengan ADHD biasanya ditangani dengan pemberian obat, terapi behavioral, parent coaching dan intervensi sekolah. Penanganan ini juga berguna untuk meringankan gejala ADHD agar anak dapat menjalani hidup berkualitas sebagaimana mestinya.

Peran orangtua dalam mengurus anak dengan ADHD

Meskipun anak sudah ditangani oleh psikolog atau guru berkebutuhan khusus, orangtua hendaknya tetap memegang peran nomor satu di dalam tumbuh kembangnya. Hal pertama yang harus dimiliki oleh semua orangtua yang memiliki anak dengan ADHD adalah penerimaan terhadap anak itu sendiri. Orangtua memang membutuhkan tenaga dan usaha yang ekstra dalam mengasuh serta mendidik anak dengan ADHD. Rasa lelah dan perasaan negatif tak jarang menghampiri. Keadaan negatif itulah yang harus diatasi dengan bersyukur, optimis dan selalu memandang sesuatu dengan positif. Menurut penelitian, persepsi dan perilaku positif orangtua terhadap anak berkebutuhan khusus dapat berkontribusi pada kemajuan perkembangannya.

Selain itu penting bagi orangtua untuk membangun komunikasi dan kerjasama yang baik dengan psikolog, guru atau profesional lain yang menangani anak dengan ADHD. Bangunlah diskusi tentang perilakunya di sekolah, pelajaran/materi yang tepat untuk anak hingga obat-obatan yang harus diminum oleh anak. Kemudian jadikan semua saran/hasil diskusi menjadi kegiatan rutin dan konsisten. Sebagai pelengkap orangtua juga bisa bergabung dengan komunitas atau ADHD support group untuk menambah informasi dan relasi untuk mendukung satu sama lain.

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

picture: <a href=’https://www.freepik.com/free-vector/happy-students-jumping-with-flat-design_2848726.htm’>Designed by Freepik</a>

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail