Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Istilah retardasi mental mungkin belum begitu akrab ditelinga masyarakat Indonesia. Namun dalam sehari-hari, retardasi mental sering juga disebut dengan tuna grahita. Dalam lingkup sekolah, anak dengan retardasi mental kerap memiliki kesempatan yang terbatas untuk mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya dan menjadi korban perundungan oleh teman-teman sebayanya karena keterlambatan yang dimilikinya dari segi intelektual, sosial dan komunikasi. Padahal jika diberikan penanganan yang baik, mereka dapat mengembangkan kemampuannya dan hidup secara mandiri.

Mengenal retardasi mental

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV-TR (DSM-IV-TR), retardasi mental memiliki 3 kriteria yaitu

  1. Fungsi intelektual yang dibawah rata-rata (IQ kurang dari 70).
  2. Kurangnya perilaku adaptif dalam bidang akademik, komunikasi, mengurus diri sendiri, kehidupan keluarga, kemampuan interpersonal, penggunaan sumber daya yang ada di sekitarnya, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri, keamanan diri, pekerjaan dan kesehatan.
  3. Terjadi sebelum usia 18 tahun. Hal ini dikarenakan tanda-tanda retardasi mental tidak teridentifikasi hingga anak masuk sekolah. Masalah akan muncul setelah mereka menunjukkan ketidakmampuan untuk belajar hal yang sama seperti anak-anak seusianya.

Untuk mengetahui anak mengalami retardasi mental atau tidak, perlu adanya pemeriksaan terlebih dahulu oleh psikolog, yang mana komponen pertamanya adalah pemeriksaan intelegensi atau tes IQ. Sehingga, orangtua/guru tidak diperkenankan untuk memberi label seorang anak dengan retardasi mental sebelum adanya pemeriksaan yang valid dari profesional.

Klasifikasi retardasi mental

Retardasi mental memiliki 4 klasifikasi, yaitu:

  1. Retardasi mental ringan (IQ 50-55 hingga 70)

Pada tingkatan ini, anak dengan retardasi mental hampir tidak dapat dibedakan dari anak-anak lain pada umumnya, khususnya sebelum memulai sekolah. Di usia remaja akhir biasanya mereka dapat mempelajari keterampilan akademik yang setara dengan kelas  SD. Ketika dewasa, mereka mampu melakukan pekerjaan yang tidak terlalu banyak membutuhkan keterampilan khusus. Meskipun begitu mereka mungkin membutuhkan bantuan dalam masalah sosial dan keuangan. Di masa depan mereka masih bisa menikah dan punya anak.

  1. Retardasi mental sedang (IQ 35-40 hingga 50-55)

Anak dengan retardasi mental sedang memiliki hambatan keterampilan yang cukup normal seperti memegang dan mewarnai dalam garis, keterampilan motorik kasar seperti berlari dan memanjat. Mereka mampu pergi ke tempat yang tidak asing dengan bimbingan. Di masa depan mereka dapat berkeluarga dan di supervisi.

  1. Retardasi mental berat (IQ 20-25 hingga 35-40)

Anak dengan retardasi mental berat umumnya memiliki abnormalitas fisik sejak lahir serta keterbatasan dalam pengendalian sensori motori. Mereka hanya dapat melakukan aktivitas secara mandiri yang sangat sedikit dan seringkali terlihat lesu dan pasif. Mereka mampu mengerjakan aktivitas sederhana dengan supervisi secara terus menerus.

  1. Retardasi mental sangat berat (IQ dibawah 20-25)

Sebagian besar anak dengan retardasi mental sangat berat memiliki abnormalitas fisik yang berat serta kerusakan neurologis otak sehingga anak tidak dapat berjalan sendiri. Mereka diperkirakan memiliki tingkat kematian yang tinggi di masa kanak-kanak.

Faktor penyebab retardasi mental

Berbagai penelitian menunjukkan bawa penyebab spesifik retardasi mental yang dapat diidentifikasi adalah biologis, seperti faktor genetik, masalah pada kehamilan dan lingkungan (infeksi, kecelakaan, trauma, penggunaan obat-obatan yang berlebih, ibu yang merokok, minum alkohol, merkuri, dsb)

Yang harus dilakukan orangtua untuk mendidik anak retardasi mental agar mandiri

1.Anak dengan retardasi mental memiliki keterlambatan dari segi intelektual dan perilaku adaptif. Berbicara kepada anak bahwa mereka tidak bisa apa-apa sama saja dengan membuat harga dirinya rendah dan tidak berkembang dengan baik. Oleh karena itu dengan memberikan pekerjaan rumah (membersihkan kamar, menyapu, memasak, dsb) atau kesempatan untuk mereka melakukan transaksi jual-beli dengan tingkat kesulitan yang bertahap dan konsisten dapat menjadi latihan bagi mereka agar terbiasa melakukan pekerjaan sehari-hari. Awalnya mungkin tidak mudah, tapi dengan kesabaran, kepercayaan dan dukungan positif dari orangtua, dengan berjalannya waktu anak akan lebih terampil dan percaya diri saat hendak melakukan aktivitas

2. Jadilah orangtua yang aktif dalam memantau perkembangan anak. Orangtua dapat melakukan kontak secara rutin dengan guru, psikolog atau profesional yang membantu anak dalam belajar dan mendiskusikan kemajuan atau ide kegiatan yang dapat membantu anak untuk mandiri secara konsisten.

3. Meskipun anak dengan retardasi mental memiliki pendidikan yang khusus, bukan berarti orangtua harus membatasi interaksinya. Justru orangtua harus memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mereka agar dapat berinteraksi dengan banyak orang dari segala usia. Dengan membuat anak aktif secara sosial, ini dapat membantunya lebih mudah berbahasa, mempelajari apa yang terjadi disekitarnya dan mengungkapkan pendapat. namun penting untuk diingat agar membekali dan mengajarkan anak tentang bagaimana untuk menjaga diri, mengenal orang yang baik dan tidak serta sex education. Ini penting mengingat kemampuan menjaga keamanan diri harus ditanamkan sejak dini agar mereka mampu “menyaring” orang-orang asing yang ada di hidupnya.

4. Orangtua bisa bergabung dengan komunitas atau retardasi mental support group untuk menambah informasi dan relasi dengan orangtua lain untuk saling mendukung. Banyak mengikuti seminar, workshop atau membaca buku yang berhubungan dengan retardasi mental dapat menambah informasi dan membuka wawasan dalam mendidik mereka agar dapat melakukan berbagai hal seperti anak-anak pada umumnya.

 Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail