Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bulan ramadhan telah tiba, bagaimana persiapan ayah bunda untuk menghadapinya? Apakah sudah siap melatih si kecil untuk ikut berpuasa?

Bulan puasa adalah bulan dimana kita dianjurkan untuk menahan lapar dan haus. Lalu bagaimana kita sebagai orang tua mempersiapkan agar anak kita mampu untuk menahan lapar dan haus tersebut ? Karena setiap anak dengan autisme berbeda dalam menahan lapar dan haus. Ada yang suka sekali makan dan ada juga yang tidak suka makan. Ketika diberi makan baru ia akan makan, namun jika tidak ia akan diam saja. Sebagai orang tua kita harus bisa memahami kondisi tersebut, apakah anak sanggup ikut berpuasa atau tidak.

Bagi anak dengan autisme, mereka belum begitu memahami arti dari puasa karena mereka akan makan bila sudah waktunya. Jadi sebagai orangtua harus sudah siap melatih agar anak ( yang sudah cukup umur ) bisa mengikuti kegiatan puasa dengan baik. Bagi anak dengan autisme yang senang makan akan mengalami sedikit masalah ketika dilatih untuk menahan lapar dan haus karena akan menimbulkan emosi yang berkepanjangan, dimana sang anak belum terbiasa dan belum mampu secara utuh untuk menunggu. Oleh karena itu orang tua harus punya siasat atau metode yang tepat agar anak mampu menahan lapar dan juga menahan emosinya.

Tentunya tidak mudah bagi orang tua untuk melatih anak dengan autisme untuk ikut berpuasa. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi orangtua untuk sedikit membebaskan anak tidak berpuasa seperti takut anak marah karena lapar sehingga meningkatkan emosinya. Dan ada juga yang beralasan jika anak berperilaku aktif takut membuat orangtua lelah untuk mengikuti kemauan anak sehingga anak dibebaskan untuk tidak berpuasa. Namun dnegan metode yang tepat akan membantu orangtua untuk tetap berusaha membantu anak ikut serta dalam menjalankan ibadah puasa, karena berpuasa mampu meningkatkan ke stabilan emosi anak jika orangtua mampu memahami kondisi mereka.  Berikut beberapa metode yang dapat dilakukan orangtua dalam melatih anak dengan autisme agar bisa mengikuti ibadah puasa.

  1. Melaksanakan Puasa sesuai Kemampuan Anak

Sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa tidak semua anak dengan autisme bisa mengikuti puasa, karena dari segi umur dan kemampuan pun berbeda – beda. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan puasa sesuai dengan kemampuan anak , baik anak yang sudah dewasa maupun yang baru belajar untuk puasa, seperti ikut sahur bersama. Namun ketika anak sudah merasa lapar, coba untuk menahannya beberapa saat sampai waktu adzan dzuhur. Memang ini akan menimbulkan gejolak emosi yang tinggi terutama anak yang senang makan, mereka akan selalu mencoba minta makan terus. Namun kita dapat mencoba untuk lebih tegas dengan memberikan penjelasan dan pemahaman agar mereka bisa sabar menahan lapar

  1. Apresiasi Pencapaian Anak

Jika orangtua sudah mampu menahan emosi anak untuk tidak makan dan minum ketika belum saatnya, beri apresiasi kepada sang anak dengan kata – kata pujian. Walaupun sang anak belum full melakukan puasanya, namun hal tersebut dapat membuat anak merasa dihargai atas usahanya.

  1. Memberikan Hadiah Jika Anak Berpuasa

Hal ini bisa juga dijadikan metode untuk melatih anak berpuasa. Ketika anak marah,  orangtua dapat mengingatkan kembali tentang apa yang akan didapat jika ia mampu berpuasa

  1. Memasakan Makanan Kesukannya

Salah satu penyemangat anak untuk berpuasa adalah makanan yang disukainya. Metode ini bisa digunakan untuk penyemangat anak agar mau berpuasa dengan memasakkan masakan yang disukai anak, baik saat sahur maupun saat buka puasa.

  1. Mengajak Anak untuk Jalan-jalan Menunggu Adzan Maghrib

Agar anak tidak bosan, maka waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk mengajak anak untuk jalan-jalan sambil menunggu adzan magrib. Kegiatan ini dilakukan agar kebosanan, rasa lapar, dan keinginannya untuk makan dapat hilang.

Itulah beberapa metode untuk melatih anak dengan autisme untuk berpuasa. Semoga bermanfaat

Penulis : Dicky Age Tresna, S.Pd

picture: timesofoman. com

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail