Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Semua anak tentunya harus diperlakukan dengan baik, begitupun pada anak dengan autisme. Namun masih banyak diantara kita yang kerap salah mengartikan “memperlakukan dengan baik”. Sebagian dari kita ketika melihat anak dengan autisme tantrum, akan merasa hiba dan meminta pihak orangtua untuk mengabulkan saja apa yang diinginkan anak agar dapat tenang. Mendidik anak dengan autisme memang perlu kesabaran yang tinggi karena akan sulit untuk memahami kemauan anak, sehingga masih ada sebagian dari kita selaku orangtua yang memperlakukan anak seperti “raja” dimana setiap keinginan anak selalu selalu kita turuti dan penuhi. Padahal kenyatannya tidak selamanya keinginan anak perlu dituruti oleh orangtua. Masih adanya beberapa pemahaman keliru yang kerap dilakukan orangtua sehingga memperlakukan anak seperti raja akan membuat anak menganggap apa yang diinginkannya akan di turuti oleh orangtua.

Salah satu kekeliruan yang kerap kita lakukan adalah pemahaman tentang anak yang tidak boleh di salahkan. Ketika anak melakukan kesalahan, masih ada sebagian dari kita yang tidak mau mengakui kesalahan anak dengan alasan bahwa anak masih belum memahami tingkah lakunya sendiri sehingga dianggap wajar jika melakukan kesalahan. Padahal alangkah lebih ideal bila orangtua memberikan teguran kepada anak dan memberikan nasihat atas kesalahan yang diperbuat, baik itu kesalahan yang skalanya kecil maupun besar. Selanjutnya adalah pemahaman untuk selalu menuruti kemauan anak. Dalam kondisi tantrum biasanya anak akan meminta sesuatu kepada orangtua. Sebagian orangtua akhirnya memutuskan untuk memenuhi dan mengikuti apa yang menjadi ke inginan sang anak dengan tujuan yang terpenting adalah anak dapat tenang kembali, bisa diam dan tidak marah – marah. Hal terakhir yang kerap luput dari perhatian kita adalah kurang melatih anak menjadi mandiri. Kekeliruan yang kerap kali terlihat adalah kebanyakan orangtua lebih memilih untuk memberi bantuan pada anak. Ketika anak melakukan hal yang di anggap orangtua memakan waktu lama bila dikerjakan oleh anak, orangtua akhirnya kerap memberi bantuan penuh kepada anak. Padahal hal tersebut kurang ideal dilakukan. Anak memerlukan penghargaan atas apa yang dikerjakannya, walaupun hal tersebut merupakan sesuatu yang dianggap sulit oleh anak. Orangtua perlu memberikan apresiasi kepada anak sebagai wujud usahanya dalam melakukan tugas.

Sebagai orangtua dari anak dengan autisme, alangkah lebih baik bila kita menghilangkan pemahaman-pemahaman keliru yang masih kerap dilakukan. Hal tersebut dimaksudkan agar anak dapat meningkatkan kemampuan dan perkembangannya menjadi  lebih baik. Lalu apa saja yang dapat dilakukan orangtua agar anak tidak menjadi “raja” dan mampu beraktivitas secara mandiri? Berikut upaya yang dapat dilakukan orangtua di rumah:

1.Hindari memanjakan anak

Kita tentunya tahu bahwa anak dengan autisme adalah anak yang memiliki beberapa keterbatasan pada aspek perkembangannya, namun bukan berarti hal tersebut menjadikan kita pasrah dan menganggap anak tidak mampu dalam melakukan hal – hal yang di angap sulit oleh mereka. Orangtua dapat mengajarkan anak untuk meningkatkan kemandiriannya. Hindari  memanjakan anak  dengan alasan tidak tega atau kasihan. Berikan tugas kemandirian kepada anak seperti menyapu, mengambilkan benda – benda di rumah, atau hal yang lainnya.

2. Hindari menyalahkan orang lain ketika anak melakukan kesalahan

Saat anak melakukan kesalahan, berikan konsekuensi yang sesuai. Contoh ketika anak memukul temannya di sekolah, masih ditemukan beberapa orangtua yang menganggap hal tersebut sebagai kelalaian guru. Padahal sebenarnya anak tersebut menunjukan perilaku yang suka memukul secara tiba – tiba. Disini terlihat bahwa kerap kali, tanpa disadari, kita mencari pihak lain untuk disalahkan atas kejadian yang merugikan anak kita. Sebagai orangtua kita harus dapat bersikap objektif, menerima dan mengakui bila  anak melakukan kesalahan dengan memberi konsekuensi kepada anak. Hindari membela secara terus menerus ketika anak melakukan  kesalahan. Hal tersebut akan membuat anak sulit membedakan mana yang baik dan benar karena ia selalu merasa tindakannya benar dan tentunya anak akan kesulitan untuk  bertanggung jawab.

Semoga bermanfaat

Penulis: Dicky Age Tresna, S.Pd

picture: <a href=”https://www.freepik.com/free-photo/smiling-schoolboy-holding-a-blank-placard_913579.htm”>Designed by Asierromero</a>

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail