Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Selain pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya, anak dengan retardasi mental perlu melakukan berbagai aktivitas diluar belajar yang mampu mengoptimalkan kemampuannya. Biasanya, dengan melakukan aktivitas yang aktif secara berkala, minat dan bakat anak akan semakin terlihat. Dari hal tersebut, orangtua akan mendapatkan gambaran mengenai proses pembelajaran selanjutnya berdasarkan perilaku yang ditampilkan dari aktivitas tambahan yang telah dilakukan.

Orangtua harus sekreatif mungkin dalam membuat kegiatan agar anak mampu menyerap informasi dan menikmati aktivitas dengan senang hati. Tidak lupa untuk terus mendampingi dan ada di setiap proses perkembangan anak karena kehadiran orangtua dapat membuat anak lebih merasa aman, nyaman dan percaya diri.

  1. Membaca berbagai buku bersama orangtua

Anak dengan retardasi mental memiliki kemampuan membaca yang rendah, terlebih untuk membaca narasi yang cukup panjang. Namun hal ini bukan berarti kemampuannya tersebut tidak dapat berkembang. Justru kemampuan intelektualnya harus dimaksimalkan dengan banyak melakukan aktivitas seperti membaca buku cerita, artikel maupun berita sehari-hari. Orangtua dapat memodifikasi aktivitas membaca buku dengan meminta anak untuk  menyimpulkan nilai moral yang dapat dipelajari dari buku tersebut, menceritakan ulang atau menulis ringkasan cerita yang mana juga dapat meningkatkan kemampuan literasi anak.

  1. Membuat makanan dan minuman sendiri

Selalu menyiapkan makanan untuk anak? Kali ini coba yuk sesuatu yang berbeda tapi bermanfaat, yaitu minta anak untuk mencoba membuat makanan atau minuman tertentu. Orangtua dapat memberikan menu pilihan namun kali ini biarkan anak untuk menentukan pilihannya agar ia merasa dihargai. Setelah menu sudah dipilih, minta anak untuk mencatat alat dan bahan yang diperlukan, jika perlu minta anak untuk menuliskan tahapan pembuatan makanan atau minuman tersebut untuk melatih daya ingat dan keteraturan dalam mengurutkan suatu proses.

Saat meminta anak membuat makanan atau minuman bukan berarti orangtua harus membiarkannya sendiri melainkan tetap berada di sampingnya untuk membimbing dan mengawasi aktivitas anak hingga selesai. Jika semakin lama kemampuan anak dalam membuat makanan atau minuman tersebut semakin cepat dan baik, orangtua dapat memberikan batasan waktu agar anak semakin sigap dan mengerti batasan waktu.

Dalam mengikuti perkembangan anak, hargai usaha dan proses yang dihadapinya, bantu saat anak mengalami kesulitan dan ucapkan kalimat-kalimat positif agar anak percaya pada kemampuannya sendiri, bahwa ia bisa. Sebisa mungkin jadwalkan kegiatan membuat makanan atau minuman favorit ini dalam sebulan agar kemampuannya semakin terasah.

  1. Berbelanja di pasar

Selama ini sebagian besar anak hanya diajarkan arti uang melalui teori saja, namun untuk membantunya memahami penggunaan uang saat jual beli di tempat perbelanjaan dan kemampuan pengelolaan uang yang baik, mengajak anak ke pasar atau supermarket adalah salah satu kegiatan yang disarankan. Misalnya, saat belanja bulanan orangtua dapat meminta anak untuk mengambilkan barang yang sesuai dengan daftar belanja. Setelah semua barang sudah terpenuhi, berikan sejumlah uang pada anak dan mintalah ia untuk menghitung jumlah uang tersebut dan memberikannya kepada petugas kasir jika sudah diminta. Jika ada uang kembalian minta anak untuk menghitung kembali jumlah uang kembalian tersebut.

Kegiatan ini bertujuan agar anak mampu mengembangkan kemampuannya dalam menerapkan teori dan praktik secara langsung seiring ia tumbuh besar, karena anak akan membutuhkan kemampuan untuk bisa bertransaksi, berinteraksi di tempat perbelanjaan serta mengelola uang dengan mandiri. Untuk mencapai kemandirian secara penuh, anak tentu membutuhkan waktu. latihan dan dukungan yang penuh dari orangtua.

  1. Mengikuti aktivitas fisik maupun kegiatan sosial

Seperti yang diketahui, anak dengan retardasi mental memiliki kapasitas yang terbatas dalam bersosialisasi. Emosi anak pun dinilai kurang stabil. Memberikan berbagai fasilitas dan gadget saja tentu tidak cukup untuk menunjang kemampuan sosialnya. Apalagi, penggunaan gadget yang cenderung berlebihan pada zaman ini akan membuat anak menjadi kurang aktif baik secara fisik maupun psikis.

Menurut penelitian, anak dengan retardasi mental yang rutin menjalani aktivitas fisik seperti berenang, bermain basket atau jogging dalam waktu 1-2 kali dalam seminggu mengalami peningkatan dalam kemampuan berkomunikasi, pengambilan keputusan dan keinginan untuk berprestasi yang baik.

Tidak hanya aktivitas fisik yang perlu ditingkatkan namun dengan memberikan anak dukungan dan kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan sosial seperti membantu orangtua dalam mengisi acara di panti asuhan, tempat penampungan bencana alam dan sebagainya dapat memberikannya pelajaran tentang rasa syukur, empati, simpati, komunikasi  dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Agar lebih seru dan menarik orangtua dapat mengumpulkan teman-teman seusia anak untuk membuat kegiatan sosial sendiri sehingga mereka dapat terlibat secara aktif dalam mengisi kegiatan tersebut dengan pengawasan penuh dari orangtua.

  1. Membuat kerajinan tangan dan pekerjaan kreatif lainnya

“Ah, anak dengan retardasi mental bisa apa?”

Pernyataan diatas mungkin pernah muncul di dalam pikiran orang awam, guru bahkan orangtua itu sendiri. Ingat, bagaimana pun kondisi anak ia berhak untuk menuntut ilmu dan sukses di dalam kehidupannya. Dengan memberikan kegiatan yang penuh dengan kreativitas, akan memberikan kesempatan pada anak untuk lebih bisa berkreasi dan mengekspresikan dirinya. Selain itu kemampuan berpikir runut anak juga akan dilatih karena setiap karya terdiri dari berbagai tahapan yang harus dikerjakan satu persatu. Melukis, membuat tempat pensil dari kardus, meronce, membuat buku cerita sendiri, membuat amplop dari kertas warna, berburu foto di berbagai situasi, membuat desain kartu ucapan dan sebagainya dapat menjadi kegiatan yang tidak boleh dilewatkan bersama anak di waktu luang. Yang terpenting orangtua mampu menunjukkan sikap optimis dan yakin bahwa anak dapat mengoptimalkan kemampuannya.

Selamat mencoba, good parents

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

picture by: <a href=”https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background”>Background photo created by pressfoto – www.freepik.com</a>

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail